GEPPUK For Rohingya

Kak Ojan Pendongeng GEPPUK Rohingya

"Trus Kak Ojan dongengnya pakai bahasa apa?"

Macam-macam saja pertanyaan dari teman-teman sepulang saya dari Aceh. Mereka sangat penasaran, bagaimana cara saya dan Kak Ade mendongeng untuk anak-anak yang tidak mengerti Bahasa Indonesia: anak-anak Rohingya.

Bulan Juni 2015 lalu saya diutus oleh GEPPUK (Gerakan Para Pendongeng Untuk Kemanusiaan) bersama dengan Kak Ade dari Dongeng Ceria Management untuk menghibur anak-anak Rohingya yang terdampar di Aceh.

Seperti 2 kloter sebelumnya, kami ditugaskan selama 1 minggu dalam rangka trauma healing dan pendampingan anak-anak korban kemanusiaan. Jika 2 rombongan pertama difokuskan di Kuala Langsa, kali ini kami ditempatkan Kamp Pengungsian Lapang, Lhoksukon.

Seperti saya di awal-awal tugas, mungkin kebanyakan orang akan kebingungan bagaimana memulai komunikasi dengan anak-anak dari negeri lain ini. Namun, jika sudah punya guidance-nya maka tidaklah sulit.

Ini sedikit tips dari saya untuk teman-teman yang mungkin akan berhadapan dengan situasi yang sama.

Pertama, cari beberapa Kosakata penting. Yang saya lakukan sebelum menjumpai anak-anak di sana adalah mencari relawan yang sudah berhari-hari di pengungsian dan mengerti beberapa kata dalam bahasa Rohingya. Kosakata yang saya dapatkan adalah:

arnam = namaku
namki = namamu
boyo = duduk

Kedua, curi perhatian. Sangat penting untuk merencanakan terlebih dahulu apa yang akan kita lakukan ketika berinteraksi dengan anak-anak. Maka, untuk mencuri perhatian mereka dan membuat saya berbeda dengan orang lain di pengungsian, saya sudah merencanakan untuk melakukan SULAP.

Sulap saya sederhana, tapi selalu berhasil. Sulap 'memenggal' jempol tangan.

Ketika saya menemukan kumpulan anak-anak di sebuah pendopo di pengungsian, saya kemudian memanggil salah satu anak untuk (dengan bahasa isyarat) memerhatikan jempol tangan kiri saya. Setelah jempol saya tarik beberapa kali ke atas, dan... putus.

Kena! Anak yang masih takjub tadipun kemudian memanggil teman-temannya yang dari gerakannya saya tahu dia sedang berkata "hei lihat di sana ada orang yang bisa memenggal jempolnya!".

Ketiga, perkenalkan diri. Setelah sebagian anak berkumpul mendekati saya, saya kemudian memperkenalkan diri:

"Arnam Kak Ojan. Namki?"

Semua anak kemudian memperkenalkan diri masing-masing kepada saya. Syafi Alam, Jamal, Syakila, dan nama-nama lain yang saya sudah lupa.

Keempat, saatnya beraksi! Setelah semua anak berada di sekitar saya, kami kemudian mengajak mereka menuju tempat yang lebih nyaman, kemudian, Kak Ojan dan Kak Ade mulailah... BINGUNG!

Hahaha!

Kami akhirnya membuka pertunjukan hiburan dengan beberapa sulap sederhana dan bermain boneka agar anak-anak dapat tertawa, ceria, serta menumbuhkan harapan akan masa depan yang baik.

Di hari-hari berikutnya, kami bercerita dengan terbata-bata, bermain bersama, dan berbicara dengan anak-anak Rohingya, dengan Bahasa Hati. Bahasa yang membuat anak-anak Rohingya tahu bahwa mereka tidak sendirian, dan Bahasa yang sama yang membuat kami yakin akan masa depan yang cerah bagi anak-anak Rohingya.


#GEPPUKforRohingya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar