Membuat Anak Betah Duduk 'Dinasehati'

Kak Ojan Pendongeng Ventriloquist

“Rajin itu pangkal pandai, lho anakku…”
“Kalau kamu puasa, kamu akan jadi orang yang bertakwa, Nak!”

Mungkin dua kalimat nasehat itu -- di antara banyak nasehat lain -- pernah diucapkan oleh guru maupun orangtua kepada anak-anaknya, namun tidak bekerja. Si anak tetap saja tidak rajin belajar, tetap malas puasa, dan tidak menunjukkan tanda-tanda adanya pengaruh dari nasehat yang disampaikan.

Akhirnya, guru maupun orangtua menganggap hal itu paling besar disebabkan oleh si anak yang tidak mau mendengarkan nasehat atau bandel. Salah satu yang memperkuat tuduhan tersebut adalah perilaku si anak yang tidak betah mendengarkan nasehat.

Benarkah demikian? Kenapa nasehat itu tidak bekerja?

Mungkin kita bisa menemukan banyak sekali jawaban saat mencarinya di Google, atau mengikuti seminar-seminar parenting. Yang jelas, menurut saya kalimat nasehat itu tidak memberikan pengaruh atau perubahan kepada si anak, karena kalimat tersebut adalah kalimat yang abstrak untuk anak-anak.

Sederhananya, kalimat tersebut tidak dimengerti oleh si anak secara nyata.

‘Rajin itu apa? Pangkal? Memangnya kenapa jika saya pandai? Apa yang akan terjadi jika saya pandai?’

Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut akan berputar sebentar di kepala anak-anak kemudian keluar tanpa membuat perubahan apa-apa pada perilaku belajar mereka. Begitu juga dengan kalimat nasehat yang kedua.

‘Bertakwa itu apa? Apa hubungannya puasa dengan bertakwa? Memangnya kenapa jika aku bertakwa?’

Beruntung jika si anak mau dan sempat menyampaikan pertanyaan-pertanyaan itu, dan orangtua atau gurunya sempat menjawab dengan tepat. Jika tidak, maka lagi-lagi, nasehat itu tidak akan bekerja.

Cara Lain
Bercerita atau mendongeng adalah salah satu cara paling mudah dan sederhana dalam menyampaikan nasehat-nasehat yang semula abstrak menjadi nyata dan mudah dipahami anak, melalui sebuah cerita imajinatif lagi disukai anak-anak.

Orangtua atau guru dapat menceritakan kisah seorang anak -- bisa cerita nyata -- yang pandai belajar kemudian dia berhasil di kelasnya, disukai teman-teman dan gurunya, meraih prestasi, menciptakan sesuatu -- untuk menyampaikan nasehat “rajin pangkal pandai”.

Pun demikian dengan “berpuasa menjadi bertakwa”. Nasehat itu dapat dengan menarik dan mudah dicerna oleh anak-anak ketika sang guru bercerita seekor ulat yang awalnya tidak disukai oleh binatang lain, dianggap hama, kemudian… bisa berubah menjadi seekor kupu-kupu cantik yang disukai seluruh binatang dan bermanfaat untuk tumbuhan yang dia hinggapi, karena dia mau berpuasa menjadi kepompong.

Cara ‘menasehati’ ini dapat membuat anak-anak betah duduk lama untuk ‘dinasehati’, dan hasilnya? Silahkan lihat sendiri...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar